Minggu, 20 April 2014

Mengapa Do'a Tidak Terkabul?

    Mungkin pernah terlintas dalam pikiran kita, mengapa do'a kita tidak terkabul, padahal Allah itu Maha Melihat, Maha Mendengar hamba-hambaNya. Sebuah kisah di bawah ini mungkin bisa menjadi renungan buat kita mengapa do'a kita tidak juga terkabul.

    Suatu hari, Ibrahim ibnu Adam melewati kota Bashrah. Penduduk disana berkumpul dan bertanya, "Wahai Ibrahim, mengapa doa kami tidak dikabulkan Allah? Bukankah Allah menyatakan, "Bedoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan"? Ibrahim ibnu Adam menjawab, "Wahai penduduk Bashrah, hati kalian mati karena 10 hal:
    1. Kalian mengenal Allah, tetapi tidak menunaikan hak-hakNya
    2. Kalian membaca Al-Qur'an, tetapi tidak mengamalkannya
    3. Kalian mengaku cinta Rasul, tetapi tidak mengamalkan sunnahnya
    4. Kalian mengaku setan itu musuh, tetapi masih mau terbujuk rayuannya
    1. Kalian mengaku ingin masuk ke surga, tetapi tidak melakukan sesuatu yang bisa mengantarkan kesana
    1. Kalian mengaku takut neraka, tetapi melakukan sesuatu yang bisa melemparkan diri kesana
    1. Kalian bilang mati itu pasti, tetapi tidak menyiapkannya
    1. Kalian sibuk mengurusi aib orang lain, tetapi lupa aib sendiri
    2. Kalian menguburkan orang mati, tetapi tidak mengambil pelajaran dari kematiannya
    1. Kalian makan nikmat Allah, tetapi tidak mensyukurinya
    Nah, kalau begitu bagaimana Allah akan mengabulkan do'a-doa kalian?"

    Mungkin diantaranya salah satu atau salah banyak dari 10 hal diatas bisa jadi penyebab do'a kita tidak terkabul. Eh, ralat… bukan tidak, tapi belum terkabul. So, mari kita berbenah, perbaiki diri dan …
    Kalo 10 hal diatas dah berez,,,
    Just wait…
    Insyallah do'a kita akan dkabulkan. Kalopun tidak terkabul juga, pasti Dia mempunyai rencana yang lebih baik yang tidak kita duga. 


    Semoga bermanfaat...

    Manado,13 April 2014
    By: senyum   (^__^)

    Sumber :
    Al-Himshi, Layyinah. 2013. Muslimah Pembelajar. Jakarta: Zaman

Selasa, 01 April 2014

Tak Ada yang Abadi

Tiba-Tiba

Terpikirkan mau nulis ketika denger lagunya Peterpan "Tak Ada yang Abadi" yang grup musiknya sekarang ganti nama "Noah". Tapi disini saya bukan akan membahas tentang  NOAH atopun macem-macem lagunya. Melainkan lirik lagu tersebut mengingatkan saya akan beberapa hal yang saya alami akhir-akhir ini. Banyak orang-orang terdekat teman saya maupun teman saya sendiri yang tiba-tiba dipanggil ke Rahmatullah.

Pertama, teman saya (guru di sebuah SMK)
Ketika kebahagian datang di keluarganya karena  beliau akan melahirkan anak kembar,    beliau sesak nafas, akhirnya pingsan ketika mau melahirkan. Pihak rumah sakit setempat tak sanggup menanganinya, akhirnya beliau dirujuk ke rumah sakit lain. Dalam perjalanan ke rumah sakit lain, nyawa beliau dan kedua anaknya tak bisa terselamatkan. Kabar yang mulanya adalah detik-detik kebahagiaan kini menjadi ratapan tangisan yang disesalkan. Tapi apa gunanya disesalkan, toh semua sudah terjadi. Kita hanya bisa mengikhlaskan dan mendoakan agar beliau dan kedua anaknya mendapat tempat terbaik di sisiNya, diampuni segala dosanya, dilapangkan kuburnya, dan dijauhkan dari siksa kubur dan siksa neraka. Amiiiin...

Kedua, ayah teman saya di program AK
Ketika pulang dari kampus, tiba-tiba dia mendapat telepon dari seseorang yg mengatakan bahwa dia turut berduka cita atas ayahnya yg meninggal. Mulanya dia sendiri ga percaya, karena barusan telepon kakaknya dan kakaknya tidak bilang apa-apa, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. Kita sendiri juga ga percaya karena akhir-akhir ini banyak penipuan yg beredar melalui telepon.  Tapi, perasaannya yg tidak enak sejak kemarin, memberanikan dirinya untuk menelepon kembali kakaknya. Dan ternyata benar, kakaknya yg mulanya menutup-nutupi kabar itu akhirnya mengaku juga. Kontan, tangis sang adik pecah, dan kita hanya bisa diam mendengar kabar itu. Bagai petir di tengah teriknya mentari, kita semua tidak ada yg menyangka.

Padahal baru 2 bulan lalu, waktu mau pulang kampung, temen saya itu nyeletuk, "pulang mi kau, jangan sampai kamu nyesel, barangkali ini kesempatan terakhir kamu bersama orangtuamu, kamu pasti nyesel kalo ga jadi pulang". Kurang lebih seperti itu kata-katanya menasehati salah satu temenku yg ga mau pulang. Dan tak disangka, dia yg pertama kali memperoleh bukti dari kata-katanya. Lagi-lagi hanya do'a yg bisa kita panjatkan. Agar beliau diampuni dosa-dosanya dan mendapat tempat terbaik disisiNya.

Ketiga, teman kuliah saya di UM
Dia teman sekelas saya waktu semester 1 dan 2. Saya mendapat kabar dia meninggal karena terkena Demam Berdarah. Katanya telat dibawa ke rumah sakit. Trombositnya sudah turun drastis. Dan nyawanya tidak tertolong. Saya hanya bisa mengucapkan "innalillahi wa inna ilaihi roji'un". Banyak yang tidak percaya dia meninggal secara tiba-tiba di usia yg semua itu. Duka yg mendalam dialami oleh keluarganya, orang-orang terdekatnya, dan kita, teman-teman kuliahnya.

Keempat, kakak teman kuliah saya di UM juga
Kakaknya sudah cukup lama mengidap radang usus. Penyebabnya katanya gara-gara terlalu sering makan mie instan. Mungkin zat-zat berbahaya di dalam ususnya sudah mengendap cukup banyak dan mengganggu metabolisme bahkan merusak ususnya. Tapi terakhir mendengar kabarnya, kakaknya sudah dioperasi. Aku kira kondisinya sudah membaik. Ternyata tidak, dan kemarin aku mendengar kabar duka itu. Katanya kakaknya sudah dioperasi 4 kali. Tapi, sebaik-baik manusia berusaha, tetap Allah yang menentukan. Pasti ada hikmah di balik semua ini. Kita sebagai manusia hanya bisa mengikhlaskan apa yang sudah menjadi takdirNya. Berat memang, tapi itu yang membuat kita lebih kuat dalam menjalani hidup. Dan yang pasti mendoakan yang terbaik untuknya yang berada di sana.

The End

Ya… memang tak ada yang abadi di dunia ini. Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Kalo di tpi-tipi bilang "The End". Yang jadi pertanyaan adalah apakah kita sudah siap menghadapinya? Siapkah menghadapi kematian yang setiap saat bisa menghampiri kita? Bukankah kita sekarang sudah berada dalam daftar antrian malaikat izrail?
Jawabannya sudah pasti, tidak ada yang benar-benar siap menghadapi kematian, termasuk saya. Kalau misalnya kematian itu bisa dipending, tentunya siapapun itu akan minta pending, sebaik dan sebanyak apapun amalnya. Mengapa demikian? Masing-masing dari kita pasti tau alasannya. // Susah dijelaskan dengan kata-kata… pasti ada seribu alasan, sepuluh ribu, bahkan kalo perlu sejuta alasan kalo itu baru bisa diterima pending kita.

Dan sayangnya itu hanyalah khayalan belaka… ye..ye…sayangnya kematian tidak dapat dipending. Mau tidak mau kita harus siap.

Ada salah seorang teman yang bilang, "sebelum mati aja baru dibanyak-banyakin amalnya"

Sekali lagi sayang seribu sayang, kita ga tau kapan jadwal kita mati. Suruh ngintipin mbah dukun? Peramal?
Walaaah…boro-boro' ngasih tau kapan orang lain mati, wong mereka sendiri aja ga tau kapan mereka mati.. Lagian syirik hal-hal semacam itu.

Yang jelas kita perlu mempersiapkan diri. Perbanyak amal mulai dari sekarang. Jangan sampai kematian kita nanti su'ul khatimah (akhir yg buruk). Karena baik buruknya akhir dari hidup kita nanti, tergantung amalan kita sehari-hari ketika hidup.

Tapi mungkin kalo baca hadist berikut akan ada tanda tanya lagi.

Rasulullah bersabda,"Ada seseorang yang sekian lama berbuat amal ahli surga, kemudian menutup perbuatannya dengan amal ahli neraka. Dan ada pula seseorang yang sekian lama berbuat amal ahli neraka, kemudian menutup perbuatannya dengan amal ahli surga " (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Bagaimana mungkin seseorang yang sepanjang hidupnya menaati Allah, kemudian tersesat di akhir hayatnya?

Dalam buku *) yang saya baca dijelaskan :
Jawaban pertanyaan ini dapat kita temukan dalam kalimat yang akrab dengan telinga kita : barang siapa merahasiakan sesuatu, Allah akan sandangkan (tampakkan) kepadanya pakaiannya. Maksudnya Allah akan menampakkan keburukan yang selama ini ia sembunyikan.

Jadi, ketika amal shaleh dinodai riya' **), ujub***), dan ghurur ****), serta tidak ikhlas karena Allah, amalnya tidak akan diterima. Tidak akan menaikkan derajad pelakunya. Bahkan semua itu akan ditelanjangi (ditampakkan) sebelum ia meninggal dunia. Naudzubillahi min dzalik…

Orang yang kelihatannya alim aja belum tentu khusnul khatimah matinya, apalagi kita. Jangan pernah merasa sudah banyak amalnya, lantas kita nyantai kaya' di pantai. Dosa-dosa kecil yang kita tumpuk tiap hari (seperti ngomongin kejelekan orang) tak sadar sudah menggunung, bahkan mungkin lebih tinggi daripada Mount Everest, puncak tertinggi gunung di dunia // kalo ga salah. Dan dibandingkan amalan kita yang belum tentu diterima, posisi kita berada di titik terbawah, hampir tereliminasi dari jajaran calon penghuni surga. Ato mungkin uda tereliminasi. Kalo ternyata sebelum sempat memperbaiki diri kita uda "The End", tamatlah riwayat kita. Uda tereliminasi, ga bawa koper lagi. Ga ada bekal sama sekali bila amalan kita ternyata ga ada yang diterima karena terkontaminasi penyakit hati.

Oleh karena itu, sebelum tereliminasi, sudah tereliminasi, ato merasa belum masuk kategori daftar calon penghuni surga (termasuk saya), mari kita perbaiki diri, banyak istigfar, isi hidup kita dengan hal-hal yang bermanfaat. Bukankah Rasul pernah bilang, "sebaik-baik manusia itu adalah yang bermanfaat bagi sesamanya".

Catatan ini bukan bermaksud untuk menggurui siapapun. Tapi ini hanyalah sebuah renungan buat kita, khususnya juga buat saya juga. Bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kematian bukan untuk diratapi dan ditangisi, tapi jadikanlah ini sebagai sebuah peringatan bagi kita yang masih hidup. Tak perlu disesali karena itu memang sudah takdir. Tak perlu diratapi karena takkan mengubah keadaan. Akan lebih baik jika kita mendoakannya dan mempergunakan sisa hidup kita sebaik-baiknya untuk bekal kehidupan setelah mati kelak yang lebih lama dan lebih panjang perjalanannya. Jika bekal kita tak cukup, kita akan lebih menyesal kelak.

Saya memang belum pernah merasakan kehilangan orang terdekat saya. Dan pastinya satu per satu nanti orang terdekat saya akan pergi meninggalkan saya. Atau bahkan mungkin saya duluan yang meninggalkan mereka. Catatan ini buat renungan bila suatu saat nanti ada yang meninggalkan saya, atau suatu saat saya duluan yang meninggalkan mereka, mereka bisa membacanya (ya.. Semoga saja ada yg nemu tulisan ini suatu saat nanti… hehehe...)
// walah… mulai.. alay.com

Sekian… Semoga bermanfaat…
Aamiin...

Manado, 16 Maret 2014 --> lanjutan:  29 Maret 2014
By: senyum   (^__^)

NB:
 *) Al-Himsyi, Layyinah. 2013. Muslimah Pembelajar. Jakarta : zaman.
 **) riya = berbuat karena ingin dipuji manusia,baik dalam perkataan maupun perbuatan, seperti caleg yg mengunjungi orang2 miskin, obral2 janji, dll..// mentang2 musim caleg,contohnya jadi caleg..  ^^v
***)  ujub = sombong
****) ghurur --> kalo ini aku belum tau artinya, mo nyari di internet masih abiz kuotaku // alibi